Ulama Yang Membolehkan dan Melarang KB (Keluarga Berencana)

Ulama Yang Membolehkan dan Melarang KB (Keluarga Berencana)

Ulama Yang Membolehkan dan Melarang KB (Keluarga Berencana)

Ulama Yang Membolehkan dan Melarang KB (Keluarga Berencana)
Ulama Yang Membolehkan dan Melarang KB (Keluarga Berencana)

Ulama-ulama yang memperbolehkannya

1. Imam Al Ghazali

Dalam kitabnya, “Ihya Ulumuddin” dinyatakan bahwa KB tidak dilarang karena kesukaran yang dialami si ibu disebabkan sering melahirkan, motifnya antara lain:

· Untuk menjaga kesehatan si ibu karena sering melahirkan
· Untuk menghindari kesulitan hidup karena banyak anak
· Untuk menjaga kecantikan si ibu

2. Syekh Al Hariri (Mufti Besar Mesir)

Beliau berpendapat, bahwa menjalankan KB bagi perorangan hukumya boleh dengan ketentuan:

· Untuk menjarangkan anak
· Untuk menghindari suatu penyakit bila ia mengandung
· Untuk menghindari kemudharatan bila ia mengandung dan melahirkan dapat membawa kematiannya (secara medis)
· Untuk menjaga kesehatan si ibu, karena setiap hamil selalu menderita suatu penyakit (penyakit kandungan)
· Untuk menghindari anak dari cacat fisik bila suami atau istri mengidap suatu penyakit

3. Syekh Mahmud Syaltut

Beliau berpendapat bahwa pembatasan keluarga bertentangan dengan Syariat Islam. Umpamanya, membatasi keluarga hanya 3 anak saja dalam segala macam kondisi. Dalam Bahasa Inggris disebut birth control. Sedangkan pengaturan kelahiran, menurut beliau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Umpamanya menjarangkan kelahiran karena situasi dan kondisi khusus, baik yang ada hubungannya dengan keluarga yang bersangkutan, maupun ada kaitannya dengan kepentingan masyarakat dan Negara. Alasan lain yang membolehkan adalah suami atau istri mengidap penyakit yang membahayakan yang dikhawatirkan menular pada anaknya.

Baca Juga: Rukun Iman

Ulama-ulama yang melarang

a 1. Prof. DR. M.S Madkour

Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Hukum. Dalam tulisannya: “Islam And Family Planning” dikemukakan antara lain: “Bahwa beliau tidak menyetujui KB jika tidak ada alasan yang membenarkan perbuatan itu”, beliau berpegang kepada prinsip: “hal-hal yang mendesak membenarkan perbuatan terlarang”.

b 2. Abu ‘Ala Al Maududi (Pakistan)

Al Maududi adalah seorang Ulama yang menentang pendapat orang yang membolehkan pembatasan kelahiran. Menurut beliau Islam satu Agama yang berjalan sesuai dengan fitrah manusia. Dikatakannya: “Barangsiapa yang mengubah perbuatan Tuhan dan menyalahi undang-undang fitrah adalah memenuhi perintah setan”. Setan itu adalah musuh manusia. Beranak dan berketurunan itu adalah sebagian fitrah menurutt pandangan Islam. Salah satu tujuan yang utama dari perkawinan itu ialah mengekalkan jenis manusia dan mendirikan suatu kehidupan yang beradab.

Terlepas dari perbedaan pendapat yang telah saya paparkan diatas, maka saya berpendapat bahwa ada empat hal pokok yang menjadi pertimbangan masing-masing individu dalam melaksanakan KB:

Segi ekonomi, suami istri hendaknya mempertimbangkan mengenai pendapatan dan pengeluaran dalam rumah tangga.
Segi sosial, suami istri hendaknya dapat memikirkan mengenai pendidikan anak, kesehatan keluarga dll.
Segi lingkungan hidup, biasanya kalau penduduk banyak sedang sarana tidak memadai, maka akan terjadi kerusakan lingkungan, seperti sampah, limbah yang kotor dll
Segi kehidupan beragama, ketenangan hidup beragama dalam suatu keluarga banyak faktor penentunya, seperti faktor ekonomi, sosial, tempat tinggal dll

Kemudian ada lagi yang menjadi bahan pemikiran mengenai KB, apabila dikaitkan dengan kepadatan penduduk. Umpamanya bangsa Indonesia sudah banyak yang mampu dipandang dari segi ekonomi, sosial dan mempunyai kemampuan ilmiah dalam membina rumah tangga.

Sebagaimana diketahui, bahwa setiap peserta KB mempergunakan alat kontrasepsi. Bila penjualan alat-alat tersebut tidak terkontrol dan dapat di beli sembarangan tempat, maka ada kemungkinan akan dipergunakan oleh para remaja dan orang-orang dewasa dalam berhubungan seks. Keberanian untuk mengadakan hubungan seks itu lebih menonjol karena sudah ada penangkal untuk tidak hamil dan terhindar dari penyakit AIDS dengan mempergunakan kondom.

Sebagai bangsa Indonesia barangkali semua kita sependapat, bahwa kesuksesan dalam KB tidak menginginkan ada dampak lainnya yang merupakan borok yang sukar diobati. Sukses disuatu sektor tetapi merosot pada sektor lain.

Dengan demikian diharapkan bahwa pelaksanaan KB harus dibarengi dan berjalan seiring dengan program lainnya, seperti pembinaan mental bangsa dan Pendidikan Agama, serta peningkatan kesadaran bermasyarakat dan bernegara perlu ditingkatkan. Kesemuanya memerlukan sarana yang tidak sedikit, disamping kesadaran. Oleh sebab itu, koordinasi perlu ditingkatkan dalam semua bidang yang terkait.