Tinjauan Hukum terhadap transaksi E-Co mmerce

Tinjauan Hukum terhadap transaksi E-Co mmerce

Tinjauan Hukum terhadap transaksi E-Co mmerce

Tinjauan Hukum terhadap transaksi E-Co mmerce
  Berdasarkan  ketentuan  Pasal  1  angka  2  Undang-Undang  Tentang  I nfo rmasi  dan
Tr ansaksi  Elektronik (UU  ITE) , disebutkan  bahwa transaksi  elektronik  adalah  per buatan  hukum
yang  dilakukan  dengan  menggu nakan  ko mputer,   jaringan  ko mputer  atau  media  elektro nik
lainnya.  Pada  transaksi  jual  beli  secara  elektronik  in i,  para  p ihak  yang  terkait  didalamnya,
melakukan  hubungan hukum  yang  dituangkan melalu i suatu bentuk perjanjian  atau kontrak yang
juga  d ilakukan  secara  elektro nik  dan  sesuai  ketentuan  Pasal  1  angka  17  UU  Tentang  Informasi
dan Transaksi Elektronik (ITE),  disebut sebag ai k ontrak elektronik  yakni perjanjian  yang dimuat
dalam doku men elektronik atau media  elektronik lainnya.
 Pada  transaksi  jual  beli  secara  elektronik,  sama  halnya  dengan  transaksi  jual  beli
biasa  yang  dilakukan  di  dunia  nyata,  d ilakukan  oleh  par a  p ihak  yang  terkait,  walaupun  dalam
jual  beli  secara  elektro nik  ini  pihak- pihaknya  tidak  ber temu   secar a  langsu ng  satu  sama  lain,
tetapi  berhubungan melalui internet.

 Dalam transaksi jual  beli secara elektronik, pihak -pihak  yang terkait  antar a lain:

1.  Penjual atau merchant atau  pengusaha  yang  menawarkan  sebuah  produk  melalui  internet
sebagai pelaku usaha.
2.  Pembeli atau konsu men yaitu setiap  orang yang  tidak dilarang  oleh u ndang-undang,  yang
menerima  penawaran dari  penjual  atau  pelaku  usaha  dan  berkeinginan u ntuk  melakukan
transaksi  jual  beli pro duk yang  ditawar kan oleh penjual/pelaku usaha/merchant.
3.  Bank  sebagai  pihak  penyalur   dana  dari  pembeli  atau  konsu men    kepada  penjual  atau
pelaku  usaha/mer chant,  karena  pada  transaksi  ju al  beli  secar a  elektronik,  penjual  dan
pembeli  tidak  berhadapan  lang sung,  sebab  mereka  berada  pada  lokasi  yang   berbeda
sehingga  pembayar an dapat dilakukan  melalui perantara dalam hal in i  bank.
4.  Provider  sebagai penyedia jasa  layanan akses internet.
  Pada dasarnya p ihak-pihak dalam jual beli secara elektro nik tersebut diatas, masing-
masing  memilik i hak dan kewajiban.  Penjual/pelaku usaha/merchant merupakan p ihak yang
menawarkan produk melalui internet, oleh karena  itu, seorang penjual wajib memberikan
informasi  secar a benar dan jujur atas produk yang  ditawar kannya kepada pembeli  atau
konsumen.   Disamp ing itu,  penjual  juga harus  menawarkan  produk yang diper kenankan o leh
undang-undang,  maksudnya barang yang ditawarkan tersebut bukan  barang yang bertentangan
dengan peraturan perundang-u ndangan, tidak rusak ataupun mengandung cacat tersebunyi,
sehingga  barang yang d itawarkan  adalah barang  yang layak untuk d iperjualbelikan.  Dengan
demikian transaksi jual beli termaksud tidak menimbulkan kerug ian bagi  siapapun yang  menjad i
pembelin ya.  Di sisi  lain, seorang penjual atau  pelaku  usaha  memilik i hak untuk mendapatkan
pembayaran dari pembeli/konsu men atas harga  barang yang d ijualnya, juga  berhak untuk
mendapatkan perlindungan atas tindak an pembeli/konsumen  yang  beritikad tidak baik  dalam
melaksanakan transaksi  jual beli secara elektronik ini.
 Pada kenyataannya,  dalam suatu per istiwa hukum termasuk transaksi jual  beli  secara
elektro nik  tidak  ter lepas  dari  k emu ngkinan  timbulnya  pelanggaran  yang  d ilakukan  oleh  salah
satu    atau  kedua  pihak,   dan  pelanggaran  hukum  tersebut  mungkin  saja  dapat  dikategorikan
sebagai  Perbuatan  Melawan  Hukum  ( Onrechtmatigedaad )  sebagaimana  d itentukan  dalam  Pasal
1365 KUH Perdata yang menyatakan bahwa:
“Tiap  perbuatan  melanggar  hukum,  yang  membawa  kerugian  kepada  seo rang  lain,
mewajibkan  o rang  yang  karena  salahnya  menerbitkan  ker ugian  itu,  mengganti
kerugian tersebut.”
sumber :