Tata Cara Perkawinan Dalam Islam

Tata Cara Perkawinan Dalam Islam

Tata Cara Perkawinan Dalam Islam

Tata Cara Perkawinan Dalam Islam
Tata Cara Perkawinan Dalam Islam

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan

Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahih:
1. Mengenal pasangan, dalam mengenal pasangan muslim dan muslimin harus memperhatikan bibit, bebet dan bobot yang akan dipinang.
2. Khitbah (peminangan), seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena memungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq’allaihi ).
3. Pertunangan yakni masa selesai peminangan menuju akad nikah, laki-laki dan perempuan belum diizinkan berhubungan layaknya suami-istri.
4. Menurut Undang-undang No. 1 tahun 1974 (wajib melepor ke KUA sebelum menikah yakni 10 hari sebelum hari H).

Akad nikah

Dalam akad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi;
· Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
· Adanya Ijab Qabul.
Syarat Ijab:
– Pernikahan nikah hendaklah tepat.
– Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran.
– Diucapkan oleh wali atau wakilnya.
– Tidak diikatkan dalam waktu tempoh, seperti muta’ah.
– Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu Ijab dilafazkan). Contoh bacaan Ijab: wali/wakil, wali berkata kepada calon suami “Aku nikahkan/kawinkan engkau dengan Delia binti Munif dengan mas kawinnya/bayaran perkawinannya sebanyak Rp 300.000 tunai”.

Syarat qabul:

– Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan Ijab.
– Tiada perkataan sindiran.
– Dilafazkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu).
– Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti muta’ah (nikah kontrak).
– Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan ).
– Menyebut nama calon istri.
– Tidak diselingi dengan perkataan lain.Contoh sebutan qabul (akan dilafazkan oleh calon suami): “Aku terima nikah/perkawinanku dengan Delia binti Munif dengan mas kawinnya/bayaran perkawinnanya sebanyak Rp 300.000 tunai” atau “ Aku terima Delia binti Munif sebagai istriku”.

 

Adanya mahar

Mahar atau diistilahkan dengan mas kawin adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang istri dan tidak boleh seorangpun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya. Allah berfirman: “Dan berikanlah mahar (mas kawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan”.

Adanya wali.

Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita, dan orang yang paling berhak menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan
cucunya, kemudian saudara seayah seibu, saudara seayah dan paman.
Ibnu baththal rahimahulaah berkata, Mereka para ulama ikhtilaf
tentang wali. Jumhur ulama diantaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri,
al-Laits, Imam asy-Syafi’i, dan selainnya berkata: “Wali dalam pernikahan adalah ashabah (dari pihak bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali”.
· Adanya saksi-saksi.
Syarat-syarat saksi;
– Islam.
– Sekurang-kurangnya dua orang.
– Berakal dan baligh.
– laki-laki.
– Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul.
– Bisa mendengar, melihat dan berbicara.
– Merdeka.
– Adil (tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil).

https://www.dosenpendidikan.com/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/