Tasawuf Akhlaki

Tasawuf Akhlaki

Tasawuf ini diperkenalkan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapat-pendapatnya, mereka mengingkat antara tasawuf mereka dan Al-Qur’an serta Sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menimbang tasawuf mereka dengan neraca syari’ah.

Tasawuf ini berasal dari zuhud, kemudian tasawuf, dan berakhir pada akhlak. Mereka adalah sebagai sufi abad kedua, atau pertengahan abad kedua, dan setelahnya sampai pada abad keempat Hijriah. Tasauf tersebut menjadi sebuah ilmu yang menimpali kaidah-kaidah yang praktis. Tasauf ini yang dimotivasi dengan menekankan pada permasalah etika. Padanya terdapat rasa takut terhadap kemurkaan Allah dan pengharapan terhadap Rahmat-nya.[15]

Harun Nasution mengatakan bahwa Al-Qur’an dan sunnah mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan Hadist menekankan nilai-nilai kejujuran, keseyiakawanan, persaudaraan rasa kesosialan, keadilan, tolong=menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, naik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menempati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikir lurus. Nilai-nilai ini yang harus dimiliki seseorang musli, yang akan bertasawuf sebagai pembentukan kearah pribadi yang mulia.

Bagian terpenting tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan tuhan sehingga merasa sadar berada duhadirat Tuhan. Keberadaan dihadirat tuhan itu dirasakan sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki.

Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan seseorang kehadirat Allah hanyalah dengan kesucian jiwa. Karena jiwa manusia merupakan refleksi atau pancaran dari Dzat Allah yang suci, segala sesuatu itu harus sempurna dan suci, sekalipun tingkat kesucian dan kesempurnaan itu berfaruasi dan jauhnya dari sumber aslinya.[16]

 

sumber :

Pos-pos Terbaru