Sekte-sekte Murji’ah

Sekte-sekte Murji’ah

Sekte-sekte Murji’ah

Sekte-sekte Murji’ah

Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) di kalangan para pendukung Murji’ah sendiri. Dalam hal ini, terdapat problem yang cukup mendasar ketika para pengamat mengklasifikasikan sekte-sekte Murji’ah. Kesulitannya antara lain adalah ada beberapa tokoh aliran pemikiran tertentu yang diklaim oleh seorang pengamat sebagai pengikut Murji’ah, tetapi tidak diklaim oleh pengamat lain. Tokoh yang dimaksud adalah Washil bin Atha dari Mu’tazilah dan Abu Hanifah dari Ahlussunnah. Oleh karena itu, Ash-Syahrastani, seperti dikutip oleh Watt, menyebutkan sekte-sekte Murji’ah sebagai berikut:

  1. Murji’ah Khawarij
  2. Murji’ah Qadariyah
  3. Murji’ah Jabariyah
  4. Murji’ah Murni
  5. Murji’ah Sunni

Sementara itu, Muhammad Imarah menyebutkan 12 sekte Murji’ah, yaitu:

  1. Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin Shufwan
  2. Ash-Shalihiyah, pengikut Abu Musa Ash-Shalahi
  3. Al-Yunusiyah, pengikut Yunus as-Samary
  4. As-Samriyah, pengikut Abu Samr bin Yunus
  5. Asy-Syaubaniyah, pengikut Abu Syauban
  6. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan al-Ghailan bin Marwan ad-Dimsaqy
  7. An-Najariyah, pengikut al-Husain bin Muhammad an-Najr
  8. Al-Hanafiyah, pengikut Abu Haifah an-Nu’man
  9. Asy-Syabibiyah, pengikut Muhammad bin Syabib
  10. Al-Mu’aziyah, pengikut Muadz ath-Thaumi
  11. Al-Murisiyah pengikut Basr al-Murisy
  12. Al-Kaaramiyah, pengikut Muhammad bin Karam as-Sijitany[3]

Harun Nasution secara garis besar mengklasifikasikan Murji’ah menjadi dua sekte, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrimMurji’ah moderat berpendirian bahwa pendosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sebesar dosanya, dan bila diampuni oleh Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali. Iman adalah pengetahuan tentang Tuhan dan Rasu-rasulNya serta apa saja yang datang dariNya secara keseluruhan namun dalam garis besar. Iman ini tidak bertambah da tidak pula berkurang. Tak ada perbuatan manusia dalam hal ini. Penggagas pendirian ini adalah al-Hasan Bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dab beberapa ahli hadits.

Adapun yang termasuk kelompok ekstrim adalah al-Jahmiyah, ash-Shalihiyah, al-Yunusiyah, al-Ubadiyah, dan al-Hasaniyah. Pandangan tiap-tiap kelompok itu dapat dijelaskan seperti berikut:

  1. Jahmiyah, kelompok Jahm bin Shufwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.
  2. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidah tahu Tuhan. Shalat bukan merupakan ibadah kepada Allah. Yang disebut ibadah adalah iman kepadaNya dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
  3. Yunusiyah dan Ubaidiyah melontarkan pertanyaan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, Muqatil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik (politheist).
  4. Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan, “saya tahu Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan adalah kambing ini,” maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan “saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke Ka’bah, tetapi saya tidak tahu apakah Ka’bah di India atau di tempat lain.

sumber :

https://etrading.co.id/clash-for-dawn-apk/