Relevansi hermeneutika terhadap ilmu pengetahuan

Relevansi hermeneutika terhadap ilmu pengetahuan

Istilah teks dan pembaca merupakan bagian struktur tiga serangkai yang saling terkait dalam teori hermeneutika: pertama, pesan, berupa teks maupun tanda; kedua, penafsir atau mediator; ketiga, audiens.[8] Dalam teori hermeneutika, terdapat tiga aktivitas eksistensi manusia, yaitu memahami (understanding), menjelaskan atau menguraikan makna tersirat menjadi tersurat, dan menerapkan atau mengaitkan makna suatu teks dengan situasi baru dan kini. Untu dapat mengaplikasikan teori hermeneutika, Dilthey mengajukan konsep pemahaman sejarah (historical understanding) yang juga bisa dipahami sebagai kesaaran sejarah (historical consciousness). Konsep Dilthey ini, bertujuan untuk mengatasi keterasingan teks dengan sejarah.

Dalam teori hermeneutika, pembaca harus mampu mengisi pemahamannya dengan keutamaan-keutamaan yang ditemukan dalam pengalaman hidupnya. Dengan kata lain, pembaca harus mampu mengungkapkan fenomenologi eksistensi dirinya sendiri. Fenomenologi eksistensi manusia akan selalu berhubungan dengan makna kehidupan dari semua bentuk sinyal dan simbol, praktek sosial, kejadian sejarah dan karya seni. Dengan dasar perolehan makna dari semua sinyal, simbol, praktek sosial, kejadian sejarah dan karya seni, maka manusia dapat menyusun kembali objective meaning. Teori hermeneutika berperan penting dalam membantu membongkar suatu ruang lingkup pemikiran yang tidak terpikirkan menjadi terpikirkan di tengah-tengah upaya memahami objective meaning.[10]

Kemudian Hans George Gadamer menguraikan penafsiran teks melalui empat elemen utama, yaitu: 1). Pengaruh kesadaran sejarah; 2). Adanya pra-pemahaman; 3). Adanya fusi horizon antara horizon teks dan horizon pembaca yang dia sebut pula dengan lingkaran hermeneutik[11]; 4) penerapan tiga unsur tersebut.[12]

Dalam perkembangan pada masa modern sekarang ini, filsafat hermeneutika teraplikasi dalam enam bentuk yang berbeda, yakni:

  1. Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel. Pemahaman yang paling awal dan mungkin saja masih tersebar luas dari kata “hermeneutika” merujuk kepada prinsip-prinsip interpretasi Bibel. Terdapat justifikasi historis menyangkut aplikasi definisi ini, sebab kata itu memasuki penggunaan modern sebagai suatu kebutuhan uang muncul dalam buku-buku yang menginformasikan kaidah-kaidah eksegesis kitab suci (skriptur).
  2. Hermeneutika sebagai metodologi filologis. Perkembangan rasionalisme dan bersamaan dengannya lahir pula filologis klasik pada abad ke-18 mempunyai pengaruh besar terhadap hermeneutika Bibel. Berawal dari hal inilah muncul metode kritik historis dalam teologis; baik mazhab interpretsi Bibel “gramatis” maupun “historis”. Keduanya menegaskan bahwa metode interpretasi yang diaplikasikan terhadap Bibel juga dapat diaplikasikan pada buku yang lain.
  3. Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiermacher punya distingsi tentang pemahaman kembali hermeneutika sebagai “ilmu” atau “seni” pemahaman. Karena seluruh bagian selanjutnya akan dicurahkan kepadanya, maka perlu digarisbawahi di sini bahwa konsepsi hermeneutika ini mengimplikasikan kritik radikal dari sudut pandang filologi, karena dia berusaha melebihi konsep hermeneutika sebagai sejumlah kaidah dan berupaya membuat hermeneutika sistematis-koheren, sebuah ilmu yang mendeskripsikan kondisi-kondisi pemahaman dalam semua dialog.

sumber :

https://situsiphone.com/seva-mobil-bekas/