Proses Pengeringan Kayu

Proses Pengeringan Kayu

Proses Pengeringan Kayu

Proses Pengeringan Kayu
Proses pengeringan kayu terdiri dari dua tahap yakni air bergerak dari dalam menuju permukaan kayu dan air mengalami penguapan dari permukaan kayu (Sucipto, 2009). Umumnya, gerakan air dari dalam kayu terjadi dari daerah dengan kelembapan tinggi menuju daerah kelembapan rendah. Pengeringan terjadi pada kayu dimulai dari bagian luar kayu sampai ke bagian dalam kayu. Hal tersebut menjelaskan bahwa pengeringan kayu lebih cepat terjadi pada bagian permukaan dari pada bagian dalam kayu. Proses tersebut biasanya dikatakan sebagai evaporasi. Terjadinya evaporasi di dalam kayu diakibatkan oleh kandungan kadar air kayu yang tidak seimbang (EMC = Equilibrium Moisture Content) dengan kadar air lingkungannya atau dalam hal lain dapat dikatakan bahwa kandungan kadar air kayu lebih besar (Dumanauw, 1990).

Pada saat proses pengeringan terjadi pada kayu, umumnya kadar air yang lebih dulu keluar adalah

Pada saat proses pengeringan terjadi pada kayu, umumnya kadar air yang lebih dulu keluar adalah air bebas yang terletak di dalam rongga sel dan kemudian air terikat yang terletak pada dinding sel. Kondisi ketika air bebas telah keluar semuanya dan air terikat masih jenuh dikatakan sebagai keadaan titik jenuh serat (fiber saturation point) (Dumanauw, 1990). Pendapat tersebut juga searah dengan tulisan Sucipto (2009) yang mengatakan bahwa gerakan air pada kayu dimulai dari bagian dalam ke bagian permukaan sebagai cairan atau uap melewati saluran selular pada kayu, dinding sel, rongga sel, atau pun saluran penghubung antara rongga sel.
Terdapat beberapa indikator dalam pengeringan kayu untuk menentukan kecepatan gerakan uap air dalam kayu. Indikator tersebut meliputi kelembaban relatif udara sekitar, kecuraman moisture gradient serta suhu kayu. Aliran uap air kayu di dalam kapiler akan menjadi lebih cepat apabila kelembapan relatif udara lebih rendah. Selain itu, rendahnya kelembapan juga akan mempercepat difusi sehingga kadar air pada permukaan kayu menjadi turun. Akibatnya, moisture gradient menjadi curam. Selajutnya, suhu kayu yang tinggi akan mempercepat aliran uap air dari dalam kayu ke bagian luar kayu. Namun, suhu yang sangat tinggi pada awal pengeringan akan membuat kayu mengalami kerusakan berupa lengkung, honeycomb dan penurunan kekuatan kayu. Selai itu, kelembapan relatif juga dapat memberikan pengaruh pada saat proses pengeringan kayu. Kelembapan relatif rendah akan membuat kayu mengalami lebih besar penyusutan sehingga terjadinya kerusakan pada kayu berupa retak permukaan serta ujungnya (Sucipto, 2009).
Untuk menghindari kenaikan suhu yang tinggi selama proses pengeringan, maka sirkulasi udara perlu diatur. Akan tetapi, lambatnya sirkulasi udara akan mempengaruhi waktu yang digunakan oleh permukaan kayu mencapai titik keseimbangan kadar air sehingga menjadi lebih lama dan berpotensi terjadinya serangan jamur (Sucipto, 2009).

Kandungan zat ekstraktif kimia di dalam kayu teras menghambat saluran, sehingga pada kayu gubal, moisture bergerak lebih bebas dibandingkan dalam kayu teras, yang berarti kayu gubal akan lebih cepat mengering. Akan tetapi, kebanyakan jenis kayu keras mengandung kadar air yang rendah dibandingkan dengan kayu gubal sehingga keduanya akan mencapai keseimbangan kadar air dengan kecepatan yang sama (Sucipto, 2009).

 

Perubahan kadar air pada kayu di atas titik jenuh serat umumnya tidak memberikan pengaruh pada bentuk serta ukuran kayu. Oleh sebab itu, perubahan-perubahan kadar air dibawah titik ini sangat mempengaruhi sifat-sifat fisik dan mekanik kayu (Dumanauw, 1990).