Plasma Darah Pasien yang Sembuh Dipercaya Bisa Melawan Virus Corona

Plasma Darah Pasien yang Sembuh Dipercaya Bisa Melawan Virus Corona

Plasma Darah Pasien yang Sembuh Dipercaya Bisa Melawan Virus Corona

Plasma Darah Pasien yang Sembuh Dipercaya Bisa Melawan Virus Corona
Plasma Darah Pasien yang Sembuh Dipercaya Bisa Melawan Virus Corona

NEW YORK – Virus Corona atau yang memiliki nama baru COVID-19

, telah merenggut lebih dari 1.600 jiwa di seluruh dunia. Virus asal Wuhan, China ini telah menyebar ke banyak negara.

Fatalnya hingga saat ini para peneliti belum dapat menemukan solusi yang ampuh untuk menghentikan penyebarannya. Mereka juga kesulitan menyembuhkan pasien yang telah terdiagnosis virus.

Kendati demikian, berbagai pihak terus berupaya semaksimal mungkin mencari solusi itu. Belum lama ini, sebuah titik terang datang dari pejabat kesehatan senior China.

Baca Juga:

Jalankan WFH, OttoPay Dukung Aktivitas yang Lebih Higienis
Bantu Tanggulangi Corona, Dua Pabrik Automotif AS Produksi Ventilator

Si pejabat, plasma darah dari pasien yang telah pulih dari COVID-19 dapat membantu menyembuhkan pasien lain. Alasannya, plasma darah dari mereka dipercaya mengandung protein berharga yang dapat digunakan untuk mengobati pasien terinfeksi virus Corona.

China National Biotec Group, mengatakan, antibodi tersebut dapat membantu merawat 10 pasien Corona yang kritis. Selain itu, bisa mengurangi peradangan pasien selama dalam 12-24 jam.

Menurut para ahli, langkah ini memang cukup logis dan memungkinkan.

Pasien yang baru sembuh dari COVID-19 masih memiliki antibodi terhadap virus Corona. Dengan menginjeksi antibodi ke pasien yang kritis, secara teori dapat membantu tubuh pasien itu melawan virus dengan lebih baik.

Meski begitu, menurut Carol Shoshkes Reiss, profesor biologi dan ilmu saraf di New York University yang tak terlibat dalam penelitian, para dokter harus tetap waspada terhadap kemungkinan efek samping yang muncul. “Senang mengetahui plasma dari para pasien yang sembuh sedang diuji. Namun, perlu diperhatikan juga kemungkinan efek samping dari perawatan ini,” tutur Reiss dikutip dari Live Science, Minggu (16/2/2020).

Keraguan serupa juga dilontarkan oleh Eric Cioe-Peña, Direktur Kesehatan

Global dari Northwell Health New York. Menurutnya, sebelum plasma darah benar-benar diinjeksi ke pasien yang sakit, perlu dilakukan proses ilmiah untuk mencoba dan mempelajarinya.

 

Baca Juga :