Penjajahan Jepang

Penjajahan Jepang

Penjajahan Jepang

Penjajahan Jepang
Penjajahan Jepang

Pada masa awal abad XX, pemerintah kolonial Belanda mulai kehilangan cara di dalam mengendalikan pergerakan nasional di Indonesia. Beragam organisasi pergerakan dengan berbagai corak dan latar belakang tumbuh subur di berbagai daerah. Para pemimpin bangsa tetap tidak patah semangat meskipun harus keluar masuk penjara. Seiring dengan itu, Jepang semakin leluasa memperluas wilayah kekuasaannya dalam Perang Asia Timur Raya. Ekspansi Jepang yang didasari semangat  Hakko Ichiu dengan cepat merambah Asia Tenggara dan masuk ke Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1942, Ter Porteen (Panglima Tentara Hindia Belanda) harus menyerah tanpa syarat kepada bala tentara Jepang di Kalijati. Maka, mulailah periode pendudukan Jepang di Indonesia. Bagaimana kehidupan masyarakat pada masa pendudukan Jepang, berikut deskripsi singkatnya. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-editorial/)

  1. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi rakyat ditujukan pada kepentingan Perang Jepang. Seluruh sumber daya alam dan bahan mentah yang dimiliki rakyat diambil oleh Jepang untuk mendukung perang. Pemerintah pendudukan Jepang mengambil kebijakan di bidang ekonomi dengan ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, kegiatan perekonomian dan pemanfaatan seluruh potensi rakyat diarahkan untuk mendukung kegiatan industri perang Jepang. Kedua, kegiatan ekonomi tidak luput dari pengawasan ketat pemerintah Jepang. Bahkan pemerintah memberi sanksi bagi pelanggarnya. Ketiga, pemerintah selain menerapkan ekonomi perang juga menjalankan sistem autarki. Kegiatan ekonomi yang berlangsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Keempat, untukmempercepat tersedianya beragam kebutuhan bagi perang, Jepang membentuk Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa) dan Nagyo Kumiai (koperasi pertanian). Kelima, kebijakan perekonomian Jepang tersebut menyebabkan sulitnya pemenuhan kebutuhan pangan rakyat dan tidak adanya sandang yang layak dipakai oleh rakyat.

Kehidupan rakyat pada masa pendudukan Jepang sungguh sangat menyedihkan. Lahan-lahan pertanian dieksploitasi sehingga menimbulkan krisis bahan pangan, krisis ekonomi, sumber daya alam, dan tingginya angka kematian. Hal itu diperparah dengan pengerahan tenaga kerja rakyat dalam bentuk kinrohoshi atau kerja bakti dan romusha atau kerja paksa. Pengerahan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan Jepang akan pembuatan kubu-kubu pertahanan, lapangan terbang, gudang bawah tanah, jalan raya, dan jembatan. Proyek itu tidak hanya berada di Indonesia tetapi juga Birma, Muangthai, Vietnam, dan Malaysia. Dampaknya adalah ribuan orang terbunuh sementara para gadis dijadikan jughun ianfu atau wanita penghibur. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi rakyat Indonesia pada waktu itu. Coba tanyakan kepada kakek atau nenekmu.

  1. Kehidupan Politik

Kehidupan politik rakyat dengan cepat berubah pada masa pendudukan Jepang. Begitu menduduki Indonesia, pemerintah Jepang langsung melarang seluruh aktivitas politik. Bahkan seluruh organisasi politik yang sempat eksis pada masa penjajahan Belanda dibubarkan melalui Undang-Undang Nomor 2 Tanggal 8 September 1942. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan bangsa yang sempat diperjuangkan melalui beragam organisasi pergerakan, sempat lumpuh dan kehilangan daya dobrak. Satu-satunya organisasi yang diperbolehkan tetap berdiri adalah MIAI. Sebaliknya, dalam rangka menancapkan kekuasaannya di Indonesia Jepang telah membuat propaganda dalam bentuk Gerakan 3A.  Gerakan ini untuk memobilisasi tenaga rakyat dalam Perang Asia Timur Raya. Namun, propaganda Jepang ini tidak berhasil karena tidak terlibatnya para pemimpin perjuangan bangsa Indonesia.

Kegagalan Jepang di dalam memobilisasi rakyat tersebut membuat Jepang mengambil simpati dengan jalan mendekati para pemimpin Indonesia untuk dijadikan pemimpin informal. Jepang sengaja membuat organisasi Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dipimpin oleh para pemimpin Indonesia untuk bisa meraih dukungan rakyat. Dalam perkembangannya, organisasi ini justru menjadi sarana pendidikan politik bagi rakyat. Kasus yang sama juga terjadi pada pembentukan PETA, Kempetai, dan badan-badan semimiliter Jepang. Semua secara efektif bisa mempersiapkan mental bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Para pemuda yang terdidik di dalam lembaga-lembaga Jepang ini kelak menjadi pemimpin bangsa. Meskipun berlangsung singkat dibandingkan dengan masa penjajahan Barat di Indonesia, namun penderitaan rakyat pada masa pendudukan Jepang jauh lebih parah. Seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki rakyat dieksploitasi demi kepentingan Perang Jepang. Seluruh bahan pangan dan sandang dibawa ke Jepang, hasil-hasil tambang dikuras dan seluruh tenaga potensial dikerahkan untuk kepentingan Jepang. Tidak aneh apabila pakaian rakyat compang-camping bahkan terbuat dari karung goni atau getah karet. Meskipun begitu, periode pendudukan Jepang memberikan pengalaman yang berharga bagi bangsa untuk mempersiapkan kemerdekaan. Karena, dengan memilih strategi kerja sama dengan Jepang melalui berbagai lembaga dan organisasi bentukannya, para pemimpin bisa secara tidak langsung memimpin bangsa.