Pengertian Qalb

Pengertian Qalb

Kata qalb ((القلب berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti membalik. Hal ini dikarenakan keadaan hati manusia seringkali berbolak-balik, terkadang susah, terkadang bahagia, sesekali setuju bahkan menolak. Kondisi qalb sangatlah berpotensi untuk tidak konsisten.[1] Kata qalb bisa diartikan sebagai qalb yang berarti hati, yaitu suatu organ dalam tubuh manusia dan qalb sebagai kalbu, yaitu pikiran manusia yang berkaitan dengan perasaan, atau sesuatu yang digunakan untuk merasakan dalam pemikiran manusia.
Dimensi insaniah psikis manusia yang lain adalah Qolb, ia adalah bentuk masdar (kata benda dasar) dari kata qalabaI yang ber arti berubah, berpindah, atau berbalik. Sedangkan kata qolab sendiri berarti hati atau jantung. Jantung disebut qalb karena memang secara fisik keadaanya terus-menerus berdetak dan bolak-balik memompa darah. Sedangkan dalam pengertian psikis, qalb adalah suatu keadaan rohaniah yang selalu bolak-balik dalam menentukan suatu ketetapan.[2]

Menurut Abdul Mujib,

Kalbu Ruhani merupakan bagian esensi dari fitrah nafsani yang berfungsi sebagai pemandu, pengontrol, dan pengendali tingkah laku, sehingga bila ia mampu berfungsi normal, maka kehidupan manusia akan sesuai fitrahnya. Dengan hati yang bersih (memiliki uluhiyyat dan rabbaniat) inilah manusia tidak hanya mengenal lingkungan fisik dan sosial tetapi juga mengenal lingkungan spiritual keagamaan dan ketuhanan.[3]
Menurut Imam Al-Ghonzali dalam bukunya Ihya Ulumuddin makna kata hati memiliki dua pengertian:
1. Yaitu daging berbentuk lentur yang terdapat di sebelah kiri dada manusia dan di dalamnya terdapat rongga berisi darah hitam. Hati merupakan sumber dan tambang bagi roh. Daging dalam bentuk seperti ini juga terdapat pada hewan serta manusia yang sudah meninggal dunia.
2. Yaitu benda yang sangat halus yang didominasi oleh sifat ruhani atau spiritual. Seluruh anggota tubuh mempunyai hubungan dengan benda yang satu ini. Benda yang sangat halus inilah yang mampu mengenal allah ta’ala dan menjangkau semua yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran[4] serta angan-angan. Dan dari hati itulah hakekat manusia dinilai oleh Allah.

Al-Ghazali tidak membahas qalb sebagai jantung atau hati dalam arti fisik (definisi materi), tetapi entitas yang halus yang menjadi hakikat manusia (definisi spiritual). Ia tidak terlalu membahas qalb dari definisi materi karena ia berkaitan penuh dengan masalah kedokteran dan tidak terlalu terkait dengan ajaran agama. Lain daripada itu, jantung dan hati atau organ tubuh lainnya hanyalah sekadar alat bagi entitas ini untuk merealisasikan keputusannya. Tatkala jantung mati dan berhenti berfungsi, maka ikut matilah seluruh organ tubuh secara keseluruhan, sedangkan jiwa manusia tidak ikut binasa dengan hancurnya badan. Jadi dalam hal ini, yang dimaksud qalb menurut al-Ghazali adalah substansi non-materi yang gaib dan tidak kelihatan.


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/