Pengertian Perilaku Menyimpang

Pengertian Perilaku Menyimpang

Pengertian Perilaku Menyimpang

Pengertian Perilaku Menyimpang
Pengertian Perilaku Menyimpang

Dalam kenyataan, meskipun suatu masyarakat telah berusaha agar setiap anggotanya berperilaku sesuai dengan harapannya, kita selalu menjumpai adanya anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang. Suatu perilaku disebut menyimpang (deviance) apabila tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Contoh perilaku menyimpang antara lain merampok, mencuri, membunuh, menganiaya, menculik, berkelahi, memerkosa, menodong, menyelundupkan barang-barang, mengedarkan obat-obatan terlarang, korupsi, dan memalsukan uang. Dalam skala yang lebih kecil, perilaku menyimpang juga termasuk pelanggaran terhadap kebiasaan atau kepantasan, seperti siswa yang tidak berada di sekolah pada jam-jam sekolah, pemuda yang mabuk-mabukan, dan perilaku seks bebas.

Menurut kajian sosiologi, penyimpangan bukan sesuatu yang melekat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan diberi ciri penyimpangan melalui definisi sosial. Contoh, hidup satu rumah bagi pasangan yang belum menikah di masyarakat Indonesia merupakan suatu perilaku menyimpang, sedangkan di masyarakat Amerika tidak disebut sebagai perilaku menyimpang. Masyarakat Indonesia dan masyarakat Amerika memberikan definisi sosial terhadap “hidup serumah tanpa menikah” sesuai dengan nilai dan norma sosial yang ada di masyarakat masing-masing.

Berikut beberapa teori yang menyatakan bahwa penyimpangan adalah perilaku yang didefinisikan secara sosial.
Korblum
Penyimpangan tidak hanya dapat dikategorikan kepada individu atau masyarakat dengan kategori deviance (penyimpangan) dan deviant (penyimpang), tetapi akan dijumpai pula yang disebut dengan institusi menyimpang atau deviant institution. Contoh yang dikemukakan oleh Korblum terkait dengan organized crime atau kejahatan terorganisir seperti sindikat pengedaran narkoba.

James W. Van der Zanden
Menurut Zanden, penyimpangan perilaku merupakan tindakan yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Ukuran perilaku menyimpang bukan pada ukuran baik buruk atau benar salah menurut pengertian umum, melainkan berdasarkan ukuran norma dan nilai sosial suatu masyarakat tertentu. Anggota masyarakat yang melakukan penyimpangan terhadap norma yang berlaku di masyarakat akan mendapatkan sanksi, secara hukum maupun sosial.

Lebih jauh Zanden mengatakan bahwa norma dan nilai sosial masyarakat yang satu berbeda dengan norma dan nilai sosial masyarakat lainnya. Contoh, kumpul kebo bagi masyarakat Indonesia umumnya dianggap sebagai penyimpangan. Namun, bagi sebagian masyarakat Barat, kumpul kebo sudah merupakan hal yang biasa atau wajar. Selain itu menurut Zanden, ada kemungkinan terjadi standar ganda ketika melihat apakah suatu perbuatan menyimpang atau tidak. Contohnya, pada dasarnya tindakan membunuh menurut norma agama adalah tindakan menyimpang. Akan tetapi, perbuatan membunuh seseorang dengan alasan sebagai usaha membela diri dapat dibenarkan menurut norma hukum. Misalnya, terjadi perkelahian antara seorang pencuri dan pemilik rumah yang menyebabkan kematian si pencuri.

Robert M.Z. Lawang
Menurut Lawang, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial. Perilaku tersebut menurut Lawang menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaikinya.

Baca Juga :