Pengertian Filsafat Pendidikan, dan Pendapat Para Pakar Pendidikan

Pengertian Filsafat Pendidikan, dan Pendapat Para Pakar Pendidikan

Pengertian Filsafat Pendidikan, dan Pendapat Para Pakar Pendidikan
Pengertian Filsafat Pendidikan, dan Pendapat Para Pakar Pendidikan
Apabila ditanyakan, apakah filsafat pendidikan itu? Maka untuk menjawab pertanyaan ini, digunakan 2 (dua) pendekatan, yaitu :
  1. Menggunakan pendekatan tradisional
  2. Menggunakan pendekatan yang bersifat kritis.
Pada pendekatan pertama digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan yang kedua, digunakan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.

1. Filasafat Pendidikan Bermakna sebagai Filsafat Tradisional

Filsafat pendidikan dalam artian ini dan dalam bentuknya yang murni yang telah berkembang dengan menghasilkan berbagai alternatif jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan filosofis yang diajukan dalam problema hidup dan kehidupan manusia dalam bidang pendidikan yang jawabannya telah melekat dalam masing-masing jenis, sistem dan aliran-aliran filsafat tersebut. Demikian dari jawaban tersebut diseleksi, jawaban mana yang sesuai dan diperlukan. Dengan demikian, filsafat tradisional dalam topik-topik dialog filsafat yang disampaikan terikat oleh metoda tradisional sebagaimana adanya sistematika, jenis serta aliran seperti yang kita jumpai dalam sejarah.
Dan berbeda dengan filsafat kritis, pertanyaan-pertanyaan yang disusun dapat dilepaskan dari ikatan waktu (historis) dan usaha mencari jawabannya dapat dilakukan dengan memobilisasikan berbagai aliran yang ada. Sedangkan jawaban yang diperlukan dapat dicari dari masing-masing aliran itu sendiri diambil dari jenis masalah yang bersangkutan dengan aliran yang bersangkutan.

2. Filsafat Pendidikan dengan Menggunakan Pendekatan yang Bersifat Kritis

Dalam pendekatan ini pemikiran logis kritis mendapatkan tempat utama. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat disusun dan tidak terikat periodisasi waktu serta dapat menerapkan analisis yang dapat menjangkau waktu kini maupun yang akan datang. Demikian pula alat yang digunakan untuk menemukan jawaban secara filosofis terhadap pertanyaan filosofis, dengan 2 (dua) cara analisis dalam pendekatan filsafat yang bersifat kritis yaitu: (1) Analisa bahasa (Linguistik), dan (2) Analisa Konsep.
Analisa bahasa menurut Harry S. Schofield adalah usaha untuk mengadakan interpretasi yang menyangkut  pendapat atau pendapat-pendapat mengenai makna yang dimilikinya. Analisa bahasa sangat diperlukan untuk menghasilkan tinjauan yang mendalam. Karenanya bahasa sebagai alat rasional untuk menghubungkan satu konsep atau peristilahan dalam konteks yang semestinya dengan yang lainnya.
Sedangkan analisa konsep adalah suatu analisa mengenai istilah-istilah (kata-kata) yang mewakili gagasan atau konsep. Jika dalam suatu analisa berusaha untuk menemukan jawaban sesuatu, maka apa yang dilakukannya ini adalah analisa filosofis. Dan dalam analisa konsep, jawabannya berbentuk definisi-definisi, dan definisi yang tergantung pula  pada tokoh-tokohnya atau lembaga yang mengeluarkan atau menciptakannya.
Dengan menggunakan pengertian bahwa filsafat itu sebagai suatu usaha untuk menemukan konsep yang dapat diterima  oleh akal mengenai alam raya dan tempat manusia di alam semesta ini secara berpikir reflektif, maka berarti memudahkan untuk memahami pengertian filsafat lapangan pengalaman sepeti filsafat pendidikan. Dalam hal ini para pakar pendidikan mengemukakan pendapat mereka, antara lain:

Dr. Yahya Qahar

menjelaskan pengertian pendidikan adalah filsafat yang bergerak di lapangan pendidikan yang mempelajari proses kehidupan dan alternatif proses pendidikan dalam pembentukan watak. Ia menyoroti dan memberikan pandangan tentang:

– Nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar pendidikan dan pandangan hidup.
– Pandangan tentang manusia yang di didik.
– Tujuan pendidikan.
– Sistem dan praktek pendidikan (teori pendidikan).- Bahan pendidikan.

Selanjutnya menurut Yahya Qahar bahwa filsafat pendidikan masih dapat dibedakan antara filsafat pendidikan yang bersifat umum dan filsafat pendidikan nasional. Adanya pemikiran yang kedua ini karena adanya penekanan pada ruang lingkup nasional dan adanya pengertian tujuan pendidikan nasional seperti tujuan pendidikan nasional Pancasila. Dan tujuan pendidikan nasional inipun sebenarnya bertitik tolak dari prinsip pemikiran filsafat pendidikan secara umum, namun penekanannya saja pada ruang lingkup nasional. Atau dengan kata lain bahwa lingkup nasional dalam pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan politik pendidikan di dalam suatu negara.

Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung

dalam bahasannya mengenai filsafat pendidikan diberi definisi sebagai berikut:

Filsafat pendidikan adalah penerapan metoda dan pandangan filsafat dalam bidang pengalaman manusia yang disebut pendidikan. Filsafat pendidikan adalah mencari konsep-konsep yang dapat menyelaraskan gejala yang berbeda-beda dalam pendidikan dan suatu rencana menyeluruh, menjelaskan istilah-istilah pendidikan, mengajukan prinsip-prinsip atau asumsi-asumsi dasar tempat tegaknya pernyataan-pernyataan khusus mengenai pendidikan dan menyingkapkan klasifikasi-klasifikasi yang menghubungkan antara pendidikan dan bidang-bidang kepribadian manusia.

Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerapkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya. Jadi di sini filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusiaan adalah tiga elemen kesatuan yang utuh.

Filsafat pendidikan adalah aktivitas yang dikerjakan oleh pendidik dan filosof-filosof untuk menjelaskan proses pendidikan, menyelaraskan, mengkritik dan merubahnya berdasar pada masalah-masalah kontradiksi-kontradiksi budaya.

Filsafat pendidikan adalah teori atau ideologi pendidikan yang muncul dari sikap filsafat seorang pendidik, dari pengalaman-pengalamannya dalam pendidikan dan kehidupan dari kajiannya tentang berbagai ilmu yang berhubungan dengan pendidikan, dan berdasar itu pendidik dapat mengetahui sekolah berkembang.

Berdasarkan uraian dari para ahli tentang filsafat pendidikan yang sesuai dengan kenyataan (semangat dan mempunyai kepentingan terapan dan bimbingan dalam bidang pendidikan) maka filsafat pendidikan merupakan terapan ilmu filsafat terhadap problema pendidikan atau filsafat yang diterapkan dalam suatu usaha pemikiran (analisa filosofis) mengenai masalah pendidikan.

Dan sebagai ilmu yang merupakan jawaban yang terhadap problema-problema dalam lapangan pendidikan, maka filsafat pendidikan dalam kegiatannya secara normatif tertumpu dan berfungsi untuk:

  1. Merumuskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan, konsep hakikat pendidikan dan hakikat manusia, dan isi moral pendidikan.
  2. Merumuskan teori, bentuk dan sistem pendidikan yang meliputi: kepemimpinan, politik pendidikan, pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan bangsa dan negara.
  3. Merumuskan hubungan antara agama, filsafat, filsafat pendidikan, teori pendidikan dan kebudayaan.

Jadi jelaslah bahwa rumusan tadi telah merangkum bidang-bidang ilmu yaitu filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan (educational science) dan hubungan antara keduanya yang saling melengkapi antara satu terhadap yang lainnya. (Drs. H.M Djumberansyah Indar, M.Ed. Filsafat Pendidikan, Karya Surabaya. 1994, hal. 40).    

Sumber: https://www.pendidik.co.id/