Penelitian Madu Lebah untuk Pencegah Osteoporosis

Penelitian Madu Lebah untuk Pencegah Osteoporosis

Penelitian Madu Lebah untuk Pencegah Osteoporosis

Penelitian Madu Lebah untuk Pencegah Osteoporosis
Penelitian Madu Lebah untuk Pencegah Osteoporosis

Sampai saat ini, pengobatan utama osteoporosis adalah hormone replacement therapy (HRT)

dan bifosfonat. Namun risiko penggunaan HRT yang paling utama adalah dapat menimbulkan kanker payudara.

Selain itu, dapat digunakan kalsium dan vitamin D serta obat-obatan yang harus selalu dikonsumsi, untuk pengobatan osteoporosis.

Dalam penelitian dengan metode yang berbeda, yakni melalui interpretasi Scanning Electron Microscope (SEM), ditemukan bahwa madu dari lebah Apis dorsata mengindikasikan dapat digunakan sebagai obat pencegahan osteoporosis.

Hal tersebut merupakan penelitian kelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH)

Universitas Airlangga yang terdiri atas dari Samsi Yordan, Abdullah Hasib, M. Huda Ramadhan, Salsabilla Abani, dan Siti Nur Rohmah.

Samsi Yordan memaparkan, madu dipercaya kaya akan antioksidan, seperti flavonoid dan asam fenolat. Flavonols pada madu akan berinteraksi secara langsung dengan esterogen melalui reseptor ER-β dan ER-α, dan kandungan asam glukonat yang dapat meningkatkan absorbsi kalsium di dalam usus.

Samsi dan kawan-kawan meneliti menggunakan hewan coba tikus putih yang diberi perlakuan Ovariohystercetomy atau pengambilan ovarium. Hewan coba itu diberi madu dengan dosis berbeda-beda selama bulan Maret hingga Juni 2017. Setelah minggu ke-12, tikus dinekropsi untuk pengambilan os femur yang selanjutnya akan dianalisa menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM).

Dari penelitian itu diperoleh hasil bahwa tulang yang tidak diberi madu menunjukan

penurunan mikroarsitektur, namun pada tulang yang diberi madu dengan dosis tertinggi menunjukan kepadatan tulang dalam keadaan normal dan tidak terjadi penurunan mikroarsitektur tulang.

Hal ini mengindikasikan bahwa madu lebah Apis dorsata dapat digunakan sebagai obat pencegahan osteoporosis. ”Kami berharap dari penelitian ini agar masyarakat mengetahui dan lebih memilih memanfaatkan bahan pengobatan yang alami dibandingkan bahan kimia yang dapat memberi efek samping pada tubuh,” kata Samsi Yordan. (*)

 

Sumber :

http://www.thebaynet.com/profile/ojelhtcmandiri