Kurangnya Budaya Literasi Pada Generasi Milenial

Kurangnya Budaya Literasi Pada Generasi Milenial

Kurangnya Budaya Literasi Pada Generasi Milenial

Kurangnya Budaya Literasi Pada Generasi Milenial
Kurangnya Budaya Literasi Pada Generasi Milenial

Sederhananya, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis dalam setidaknya satu bahasa.

Jadi hampir semua orang di negara maju pasti menerapkan budaya literasi dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Kami mengambil sebuah kutipan dalam buku The Literacy Wars yang berisi pendapat bahwa “Tidak ada satu pun, pandangan yang benar tentang keaksaraan yang akan diterima secara universal. Ada sejumlah definisi yang bersaing dan definisi ini terus berubah dan berkembang.”

Kutipan tersebut memunculkan beberapa masalah tentang Kurangnya Budaya Literasi. Seberapa perlu literasi? Apa kekuatan dari literasi dan evolusinya? Menerapkan literasi merupakan hak asasi manusia. Alat pemberdayaan pribadi dan sarana untuk pembangunan sosial dan manusia. Peluang pendidikan tergantung pada literasi.

Literasi adalah jantung dari pendidikan dasar untuk semua dan penting untuk memberantas kemiskinan

serta membuat orang-orang kaya akan ilmu yang bisa berguna bagi mereka.

Gagagasan Literasi

Gagasan literasi dasar digunakan untuk pembelajaran awal membaca dan menulis, yang harus dilalui oleh orang dewasa yang belum sekolah. Istilah literasi fungsional disimpan untuk tingkat membaca dan menulis yang menurut orang dewasa dibutuhkan dalam masyarakat modern yang kompleks.

Penggunaan istilah ini menggarisbawahi gagasan bahwa meskipun orang mungkin memiliki tingkat dasar literasi,

mereka memerlukan tingkat yang berbeda untuk beroperasi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Penerapan Literasi

Memperoleh literasi lebih dari pada mendominasi secara psikologis dan mekanis teknik membaca dan menulis. Ini adalah mendominasi teknik-teknik itu dalam hal kesadaran untuk memahami apa yang dibaca dan untuk menulis apa yang dipahami. Hal tersebut merupakan suatu komunikasi secara grafis.

Memperoleh literasi tidak melibatkan menghafal kalimat, kata-kata atau suku kata, objek tak bernyawa yang tidak terhubung ke alam semesta eksistensial, tetapi lebih merupakan sikap penciptaan dan transformasi diri menghasilkan sikap intervensi dalam konteks seseorang.

 

Baca Juga :