Kondisi Lingkungan Raja Ampat

Kondisi Lingkungan Raja Ampat

Kondisi Lingkungan Raja Ampat

Kondisi Lingkungan Raja Ampat
Kondisi Lingkungan Raja Ampat

Proses Pembentukan

Kepulauan Raja Ampat terbentuk oleh pergerakan lempeng Pasifik dan pembentukan laut dalam sekitar 231-163 juta tahun lalu atau lebih tepatnya pada Zaman Jura. Pada sekitar 125 juta tahun yang lalu atau pada Zaman Kapur Akhir benua Australia bergerak menuju arah utara dan membentuk busur kepulauan (Supriatna, 1995). Gerakan lempeng India-Australia bergerak sekitar 8 cm/tahun kea rah utara-timur laut dan lempeng Pasifik bergerak sekitar 10 cm/tahun ke barat-barat laut yang kemudian membentuk Sesar Sorong yang membelah Pulau Batanta dan Pulau Salawati. Zona atau Kawasan terdiri dari Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Misool, Pulau Kofiau, Pulau Salawati, Pulau Sayang, Pulau Gag, Pulau Kawe, Pulau Gam, Pulau Manuran, Pulau Mansuar dan pulau-pulau kecil lainnya disekitar zona tersebut, serta juga beberapa selat yaitu, Selatdampier, Selat Sagawin dan Selat Bougainville serta teluk-teluk antara lain Teluk Mayalibit, Teluk Kabui, Teluk Lilinta, Teluk Tomolol dan Teluk Nukari. Kawasan tersebut dikelilingi oleh Laut Seram di sebelah selatan, Laut Halmahera di sebelah barat serta Samudera Pasifik di sebelah barat dan timur.

Kedalaman laut (batimetri) terdalam, yaitu lebih dari 200 meter, terletak atau terdapat di tengah-tengah laut lepas antara Pulau Waigeo, Kofiau dan Misool (Dishidros, 1992). Sedangkan laut antara Pulau Misool dengan Salawati dan pulau-pulau disekitarnya memiliki kedalaman kurang dari 200 meter, sedangkan laut di sekitar Pulau Waigeo pada daerah teluk berkisar antara 3 hingga 55 meter dan pada daerah tanjung yang bertebing kedalamannya dapat mencapai 118 meter.

Karakteristik Pantai

Berdasarkan karakteristik pantai yang berupa kenampakan bentuk, lereng, batuan penyusun, relief serta proses-proses geodinamis yang terjadi, pantai Raja Ampat dibagi menjadi :
1) Pantai Berpasir ; dicirikan dengan relief yang rendah, melengkung halus, pasir halus hingga kasar, pecahan cangkang kerang, karonat, berwarna putih, ditumbuhi oleh terumbu karang dan proses sedimentasi yang dominan. Tipe pantai seperti ini ditemukan di kampung-kampung antara Saonek, Waisai, Urbiansopen, Kapadiri, Selpele, Mutus dan Arborek di Pulau Waigeo serta Waigama, Atkari, Tomolol dan Lilinta di Pulau Misool.

2) Pantai Bertebing ; dicirikan dengan relief sedang-tinggi, batu gamping putih, batuan beku basal, masif dan keras. Tinggi tebing dimulai dari 2 meter hingga 100 meter dengan kemiringan 20% hingga terjal. Proses geodinamis yang terjadi adalah pengangkatan, patahan, karstifikasi serta abrasi. Daerah pantai seperti ini dominan terdapat di Pulau Waigeo dan sekitarnya memanjang dari Teluk Kabui, Teluk Mayabilit, daerah antara Urbinasopen hingga Selpele dan juga dominan mengelilingi Pulau batanta, Pulau Batangpele, Pulau Kawe, Pulau Gag, Pulau Mansuar, Pulau Misool bagian selatan.

3) Pantai Berlumpur ; dicirikan dengan relief rendah, berbentuk bersifatt deltaic, tersusun atas lumpur, lempung pasiran, organik, berwarna coklat hingga hitam, lunak dan basah. Pantai yang seperti ini antara lain ditemukan di Kalitoko di teluk Mayabilit, Kabare di Pulau Waigeo dan pantai antara Waigama hingga Atkari di Pulau Misool. Pada pantai yang seperti ini yang dominan adalah proses pengendapan serta hutan mangrove.

4) Pantai Kerikil Pasiran ; dicirikan dengan relief yang rendah hingga sedang, tipe pantai berteluk dan bertanjung, batuan tersusun atas kerikil, pasir halus hingga kasar, batuan beku, berwarna hitam keabu-abuan dan terletak tersebar di kaki perbukitan gunungapi purba. Tipe pantai ini dapat ditemukan di daerah Yensawai, Arefi dan Wailebet di Pulau Batanta dan Kalyam di Pulau Salawati.


Sumber: http://rahmad.blog.unismuhpalu.ac.id/spacex-luncurkan-10-satelit-untuk-iridium/