Komunikasi internasional

Komunikasi internasional


adalah komunikasi yang dilakukan oleh komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan kepentingan negaranya kepada komunikan yang mewakili negara lain.
Sebagai sebuah bidang kajian, Komunikasi Internasional memfokuskan perhatian pada keseluruhan proses melalui data dan informasi mengalir melalui batas-batas negara. Subjek yang ditelah bukanlah sekadar arus itu sendiri, melainkan juga struktur arus yang terbentuk, faktor-faktor yang terlibat di dalamnya, sarana yang digunakan, efek yang ditimbulkan, serta motivasi yang mendasarinya.
Perspektif komunikasi internasional adalah perspektif propogandistik yang memiliiki sedikit kesamaan dengan perspektif jurnalistik, yaitu menggunakan kekuatan media massa. Namun perbedaannya adalah perspektif propogandistik lebih mengacu kepada penyebaran dan penanaman ide serta gagasan milik satu negara kepada masyarakat di negara lain untuk dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan tindakan mereka. Propoganda ini dibuat melalui gagasan yang diberikan, peristiwa yang terjadi, atau kebijakan suatu negara yang kemudian membuat masyarakat negara lain memberikan dukungan mereka atau bahkan mengubah sikap serta cara pandangnya.

Komunikator dalam Propaganda

• Sebagai komunikasi satuke banyak orang(one-to-many), propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya.
• Komunikator dalam propaganda Merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya.
• Sehingga dapat disimpulkan, komunikator dalam propaganda  adalah,seorang yang ahli dalam teknik penguasaan atau kontrol sosial.
• Setiap penguasa negara atau yang bercita.
• Cita menjadi penguasa negara harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial.
Contoh kasus
Kebebasan pers di Amerika Serikat dan di dunia merosot di titik paling rendah selama 13 tahun terakhir ini. CNN mengabarkan, hal itu diungkap oleh kelompok pemerhati independen Freedom House, Jumat (28/4/2017). Kelompok itu melakukan analisa berdasarkan politik, hukum dan kondisi ekonomi bagi para wartawan di seluruh dunia. Masing-masing negara dinilai mulai dari 10 hingga 100. Semakin kecil nilainya, maka negara itu dikenal paling bebas kehidupan persnya.
Laporan yang disusun tahun ini, Freedom House menyebutkan kehidupan pers di AS turun dua poin dari 21 menjadi 23. Hal itu menandakan kondisi paling buruk selama 10 tahun lebih, mengingat pada tahun 2006, AS masih menduduki posisi 16. Menurut Freedom House, kemerosotan kehidupan pers di AS, dipicu oleh kondisi politik dan meningkatnya polarisasi media massa, serta meningkatnya propaganda yang didukung Rusia dalam pemilihan presiden AS, 2016.
Di samping itu, Presiden Donald Trump juga kerap melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap kerja wartawan, sejak masih menjadi calon presiden maupun setelah menjabat di Gedung Putih. ‘’Tidak seorang presiden AS dalam sejarah yang melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap pers, kecuali Trump di awal pemerintahannya,’’ bunyi laporan itu. Bahkan, tindakan Trump itu mencerminkan perlakuan negara-negara lain yang sejak lama membatasi kebebasan persnya.
Meski demikian, AS termasuk negara dengan kebebasan pers yang cukup longgar, berkat adanya perlindungan konstitusi. ‘’AS masih dianggap sebagai negara paling bebas kehidupan persnya di dunia,’’ sebut laporan Freedom House. ‘’Pers AS menikmati pemberitaan agresif dan saling berbeda, malah banyak di antara laporan dan tulisannya tentang berita luar negeri dan dunia, mendapat perlindungan hukum.
Secara global, Freedom House menyimpulkan hanya 31% negara-negara di dunia yang mengalami kebebasan pers. Kesimpulan ini berdasar pada ‘’Kondisi liputan untuk masalah politik, keamanan para wartawan, campur tangan pemerintah terhadap media massa dan insan pers tidak mendapat tekanan hukum maupun ekonomi,’’ tulisnya.
Norwegia, Swedia, Finlandia, Belgia dan Denmark, merupakan negara-negara yang paling menjunjung kebebasan pers. Sebaliknya Korea Utara, Turkmenistan, Uzbekistan, Crimea dan Eritrea merupakan negara yang paling buruk. Tak disebutkan Rusia, China dan Indonesia di peringkat ke berapa.

sumber :
https://www.allisonblack.org/seva-mobil-bekas/