Keluarga Berencana Dalam Islam

Keluarga Berencana Dalam Islam

Keluarga Berencana Dalam Islam

Keluarga Berencana Dalam Islam
Keluarga Berencana Dalam Islam

Bangsa Indonesia sejak dari Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai saat ini dan masa akan datang berusaha untuk memakmurkan masyarakat yang berkeadilan sosial dan merata. Untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur tidaklah begitu mudah. Banyak kendala yang dihadapi sehingga pelaksanaan pembangunan tidak berjalan mulus.

Suatu pembangunan memerlukan modal, sarana, tenaga terampil, kualitas, wawasan yang luas dan masih banyak lagi. Dalam kondisi yang semacam ini, bangsa kita dihadapi kepadatan penduduk yang terus melaju dari tahun ke tahun. Kalau penduduk sudah banyak, maka timbul lagi pemikiran baru, yaitu bagaimana cara mendidiknya dan bagaiman pula menyediakan lapangan bola, eeh…lapangan kerja maksud saya, belum lagi bicara tentang perumahan, pangan kesehatan, keamanan dan masih banyak lagi. Wooouww..ribet kan..??

Dengan demikian, antara keperluan dan persediaan yang ada tidak berimbang, terutama kperluan pokok sperti Tablet, Blackberry, Laptop, hmmm termasuk gak ya itu kedalam keperluan pokok? Kayaknya gak deh…

Atau mungkin saja persediaan ada dan memadai tetapi tidak terjangkau oleh anggota masyarakat. ya seperti yang saya sebutkan tadi.

Oke baiklah, mungkin salah satu cara yang ditempuh oleh Pemerintah untuk mengatasi problem-problem yang tumbuh dan berkembang adalah dengan Keluarga Berencana (KB), sejak tahun 1973 waktu itu saya belum lahir, Keluarga Berencana (KB) sudah dicantumkan dalam GBHN dan mutlak harus dilaksanakan, dengan ketentuan pelaksanaannya harus dengan sukarela dan dengan mempertimbangkan nilai-nilai Agama.

Sebenarnya sebelum bangsa Indonesia mencanangkan KB, dari dulu masalah ini sudah menimbulkan pro dan kontra dengan argumentasi masing-masing.
Dalam Al Quran Allah berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka berrtaqwa kepada Allah dan hendaklah meraka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An Nisaa:9)

Ayat diatas memberikan petunjuk supaya setiap keluarga memikirkan masa depan anak cucunya, jangan sampai menjadi generasi yang lemah fisik dan mentalnya. Lemah fisik bisa karena kurang pangan dan perawatan kesehatan tidak memadai.

Ada beberapa petunjuk yang menurut saya perlu kita lakukan dalam ber-KB, yaitu:

a. Menjaga kesehatan istri (ibu sianak)

Kesehatan ibu dan anak perlu dipelihara, maksudnya kesehatan jiwanya diperhatikan karena beban jasmani dan rohani selama dia hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat. Si ibu menyusui anaknya selama dua tahun hal ini kehamilan itu sudah dapat dijarangkan paling kurang dua setengah tahun, dengan demikian si ibu tidak menderita. Dan si suami senang. Hehehehe…

Baca Juga: Rukun Islam

b. Memikirkan/mempertimbangkan kepentingan anak

Sesudah anak lahir, maka kesehatan jasmani dan rohani perlu mendapat perhatian yang wajar, air susu ibu perlu diberikan supaya bayi sehat, disamping bayi sehat kehamilan pun dapat diperjarang

c. Memperhitungkan biaya hidup berumah tangga

Menurut saya ini penting. Untuk memenuhi keperluan keluarga, baik moril maupun materil menjadi tanggung jawab suami, kendatipun dalam soal moril ibu ikut berperan aktif dalam mendidik anak. Seorang suami sudah dapat memperhitungkan pendapatannya setiap hari/bulannya, dan berapa orang yang dapat dibiayai dari hasil pencariannya itu. Jangan sampai istri dan anak hidup dalam penderitaan.

d. Mempertimbangkan suasana keagamaan dalam rumah tangga

Ini poin paling penting, biasanya orang bisa lalai dan lupa terhadap kewajibannya kepada Allah, kalau dihimpit oleh penderitaan hidup, kalau sudah lupa kepada Allah, maka tipis harapan si bapak dan si ibu menghidupkan suasana keagamaan dalam rumah tangga.

Dalam hadits disebutkan yang artinya:
“Sesungguhnya lebih baik bagimu, meninggalkan ahli warismu dalam keadaan yang berkecukupan daripada meninggalkan mereka menjadi beban/tanggungan orang banyak”. (HR. Muntafaq Alaih).

Dari hadits tersebut dapat dipahami, bahwa suami istri sepantasnya mempertimbangkan tentang biaya rumah tangga selagi keduanya masih hidup dan sepeninggalannya nanti, jangan sampai anak menderita, apalagi menjadi beban orang lain. Dengan demikian, pengaturan kelahiran anak hendaknya dipikirkan bersama oleh suami istri.

Untuk menjadikan keluarga dan anak keturunan bermutu, perlu tersedia dana, srana, kemampuan dan waktu yang cukup untuk membinanya. Hal ini pun membei isyarat, berapa sebenarnya jumlah keluarga yang pantas dalam suatu rumah tangga. Sehingga mudah membinanya. Berdasrkan pengalaman orang yang menjalankan KB, bahwa orang yang mempergunakan kondom dan spiral pun ada kalanya hamil juga.

Mengenai Keluarga Berencana (KB) dari dulu sampai sekarang ada diantara Ulama yang membolehkannya dan ada pula yang tidak memperbolehkannya.