KEBIJAKAN ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH

KEBIJAKAN ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH

Dalam masa pemerintahannya, Abu Bakar menempuh berbagai kebijakan-kebijakan dalam rangka menjaga keutuhan kaum muslimin, karena pasca wafatnya Rasulullah hampir seluruh daerah kekuasaan kaum muslimin mengalami pergolakan.

Diantara kebijakan-kebijakan yang dilakukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah sebagai berikut:

2.2.1 Kodifikasi Al-Qur’an dalam satu mushaf
Di tahun ke dua belas Hijriah terdapat tujuh puluh penghafal Al-Qur’an dari sahabat yang gugur sebagai syuhada pada Perang Yamamah. Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan dalam Perang Riddah jumlah penghafal al-Qur’an yang terbunuh mendekati angka 700 jiwa.
Hal ini kemudian membuat Umar mendesak Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Hal tersebut dilakukan karena Umar khawatir Al-Quran akan hilang, terutama jika terjadi peperangan lain seperti perang-perang sebelumnya yang menewaskan para penghafal Al-Qur’an. Selain itu, dalam pandangan Umar, jika Al-Qur’an ditulis dan dihimpun, ia akan terjaga dan tidak terpengaruh secara langsung oleh hidup atau matinya para penghafal.
Awalnya Abu Bakar menolak usulan ini karena hal tersebut tidak pernah dicontohkan Rasulullah ketika masih hidup. Setelah mendiskusikannya, Abu Bakar setuju untuk membukukan Al-Qur’an dengan Zaid bin Tsabit yang sebagai orang yang bertanggung jawab atas tugas ini. Pemilihan Zaid sendiri dikarenakan ia seorang yang kedudukannya yang baik dalam masalah qiraat, kemampuan dalam masalah penulisan, pemahaman dan kecerdasannya.
Abu Bakar menginstruksikan Zaid agar tidak menerima ayat Al-Qur’an sampai disaksikan oleh dua orang. Zaid bin Tsabit mengembangkan ketentuan tersebut menjadi tiga, yaitu: Pertama, ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit dua orang. Kedua, harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk lainnya). Ketiga, untuk yang tertulis, paling tidak harus ada dua orang saksi yang melihat saat dituliskannya.
Mushaf yang telah dikumpulkan oleh Abu Bakar disimpannya sampai wafat, kemudian disimpan Umar. Ketika Umar meninggal, mushaf disimpan oleh Hafsah putri Umar yang mendapatkan wasiat untuk wakaf peninggalan ayahnya. Mushaf tersebut kemudian diambil Usman bin Affan dimasa jabatannya sebagai khalifah untuk ditulis ulang dan disebarkan di beberapa wilayah kekuasaan Islam.
2.2.2 Memberantas Kaum Murtad
Selepas kematian Rasulullah beberapa suku melakukan tindakan yang menyeleweng dari agama Islam, salah satunya adalah enggan membayar zakat yang menjadi kewajiban kaum muslimin. Sebelum Abu Bakar mengirimkan pasukan untuk menumpas mereka, lebih dahulu Abu Bakar mengirimi surat kepada golongan ataupun orang-orang yang menyeleweng tersebut.
Dalam surat itu dijelaskan bahwa ada kesamaran-kesamaran yang timbul dalam pikiran mereka, serta diserukan kepada mereka agar kembali kepada ajaran Islam. Diperingatkan pula, apa akibat yang akan terjadi kalau mereka masih tetap dalam kesesatan itu.
Kaum yang tidak berkenan membayar zakat adalah Bani Abs, Bani Murrah, Bani Dzubyan, dan Bani Kinanah. Mereka menganggap bahwa pemungutan zakat yang dilakukan oleh Nabi saja yang dapat membersihkan dan menghapuskan kesalahan-kesalahan pembayar zakat. Hal ini terjadi karena salah menafsiran salah satu ayat yang berkenaan zakat (Surat Al-Taubah ayat 103).
Tepat pada bulan Jumadil Akhir 11 H Abu Bakar mengerahkan seluruh penduduk Madinah dan para perbatasan untuk menyerbu orang-orang Arab yang murtad sekitar Madinah. Peperangan ini dikenal dengan nama Perang Riddah. Perang Riddah diprioritaskan terhadap orang-orang yang enggan membayar zakat.
Akhirnya, hasil dari pertempuran itu kaum Muslimin kembali membayar zakat setelah kemenangan yang didapatkann di Dzil Qishshah. Pada malam harinya dari setiap kabilah mulai berdatangan ke Madinah. Yang pertama kali yang membayar zakat yakni Safwan dan Zabriqan, pemimpin-pemimpin Banu Tamim, Adi Bin Hatim Al-Ta’i dari kabilah Tayyi’, maka kota Madinah pun di penuhi harta zakat.

POS-POS TERBARU