Jokowi Imbau Ada PR Berkarakter untuk Siswa, Purwakarta Sudah Jalankan Sejak Lama

Jokowi Imbau Ada PR Berkarakter untuk Siswa, Purwakarta Sudah Jalankan Sejak Lama

Jokowi Imbau Ada PR Berkarakter untuk Siswa, Purwakarta Sudah Jalankan Sejak Lama

Jokowi Imbau Ada PR Berkarakter untuk Siswa, Purwakarta Sudah Jalankan Sejak Lama
Jokowi Imbau Ada PR Berkarakter untuk Siswa, Purwakarta Sudah Jalankan Sejak Lama

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sangat mengapresiasi langkah yang akan digulirkan Presiden RI, Joko Widodo di bidang pendidikan. Yakni, terkait pemberian pekerjaan rumah bagi pelajar, seperti yang disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional PGRI 2017 di Sleman, Yogyakarta‎ di hadapan ribuan guru.

Terlebih, imbauan dari orang nomor satu di Indonesia itu telah lama dijalankan oleh sebagian besar sekolah yang ada di Kabupaten Purwakarta. Tak hanya soal pelajaran yang lebih aplikatif, di wilayah ini seluruh sekolah nyaris telah memberlakukan kebijakan mengenai pemberian pekerjaan rumah (PR) bagi siswa seperti yang diinginkan Presiden.

‎”Imbauan Pak Presiden tentang pemberian PR berkarakter sangat bagus sekali. Di wilayah kami, hal ini sudah berjalan lama melalui sistem pendidikan berkarakter‎,” ujar Dedi, baru-baru ini.

Kang Dedi, mengaku sangat sependapat dengan imbauan Presiden Jokowi itu.‎ Karena, dirinya menilai sampai saat ini pola pembelajaran di sekolah cenderung masih monoton. Sehingga, terlihat si guru tersebut kurang kreatif. Tak sedikit para guru ini hanya bisa mentransferkan ilmunya dari buku pelajaran yang diterbitkan saja.

“Metode seperti ini, memang sudah harus diubah,” seloroh dia.

 

Dedi menjelaskan, sejak awal September tahun lalu pihaknya telah membuat sebuah edaran baru bagi tenaga pendidik di wilayahnya. Dalam surat edaran nomor 421.7/2014/Disdikpora itu, poin pentingnya meminta supaya mereka lebih kreatif, berinovasi dan improvisasi dalam mengajarkan pelajaran ke anak didiknya. Salah satunya, dalam hal memberikan pekerjaan rumah (PR).

“Pekerjaan rumah itu bukan berbentuk akademik. Misalnya, disuruh mengerjakan dan mengisi tugas yang ada di buku. Tapi, harus lebih kepada pengaplikasian dari mata pelajaran tersebut atau bisa juga disesuaikan dengan minat dan bakat para siswa itu sendiri,” jelas dia.

Jadi, menurut dia, pekerjaan rumah yang harusnya diberikan pada siswa itu

bersifat aplikatif. Misalnya, kegiatan beternak yang diterjemahkan dalam kerangka pendidikan akademis. Dia mencontohkan, dalam pelajaran Biologi para siswa ditugaskan untuk membuat kompos atau pupuk organik dari kotoran domba.

“Jadi, PR yang diberikan itu bukan disuruh untuk mengerjakan isian dari sebuah buku. Tapi lebih aplikatif. Karena, dengan cara ini siswa bisa langsung mempraktekkan teori yang diberikan di sekolah,” kata dia.

Dedi menambahkan, imbauan Presiden tersebut hampir sama dengan pemberian pendidikan v

okasional bagi siswa yang juga telah diterapkan di Purwakarta. ‎Jadi, ‎selain mendorong sekolah dan guru-gurunya mengajarkan pelajaran aplikatif, pada awal tahun kemarin pihaknya pun membuat kebijakan lain bagi para siswanya. Yakni, memberi kesempatan kepada mereka belajar di luar sekolah untuk mendampingi orang tuanya bekerja.

“Ini merupakan program pendidikan vokasional yang sudah berjalan di wilayah kami. Setiap hari Selasa pada pekan kedua dan keempat, mereka tidak harus ke sekolah. Tapi, mereka wajib belajar bersama orang tuanya di rumah,” kata dia.

 

Sumber :

https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21236/pengertian-akhlak