Jenis-jenis Ijtihad

Jenis-jenis Ijtihad

Jenis-jenis Ijtihad

  1. Ijma’

            Yaitu kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hokum-hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat. Bentuk ijtihad ini didasarkan pada hadist Nabi SAW : “Ummatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.” Ijma yang dihasilkan haruslah didasarkan pada hadist dan Al-quran yang diterima. Ijma ‟ adapula yang merupakan kesepakatan para sahabat Nabi yang disebut ijma’

 Shahabat yang dianggap sebagai sumber hukum Islam ketiga setelah Al-qur‟an dan Assunah seperti mendirikan bagi masyarakat islam dan mengangkat pemimpin (khalifah) bagi ummat.

  1. Qiyas

Secara bahasa artinya ialah analogi, secara istilah ialah Ushul Fikih yang berarti menetapkan suatu hukum “baru” yang belum ada nash – nya dengan hukum “ yang sudah ada” nashnya. Nash menurut bahasa adalah rof‟u assyari‟ atau munculnya segalasesuatu yang tampak. Sedangkan menurut syara‟adalah : Suatu lafadz yang maknanya lebih jelas Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari kejelasannya, melainkan timbul dari pembicara sendiri yang diketahui Muhammad Adib Salih berkesimpulan bhawa yang dimaksud Nash adalah: Lafaz yang menunjukan hokum dengan jelas yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan. Disini Nash lebih memberi kejelasanmaknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Adapun Kedudukan (hukum) lafadz nash yaitu wajib diamalkan sepanjang tidak ada dalil yang menakwilkan (menentukan beberapa maknayang mungkin terkandung di dalam ayat al-Quran yang mempunyai berbagai makna) Qiyas menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Ijma dan Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya.

sumber :
https://ngegas.com/seva-mobil-bekas/