Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

Terdapat dua pendekatan dalam psikologi sosial yang menekankan factor-faktor psikologis dan ada yang menekankan factor-faktor sosial, dengan istilah lain: factor-faktor yang timbul dalam diri individu (factor personal), dan factor-faktor berpengaruh yang datang dari luar diri individu (factor environmental) tercermin secara menarik, pada dua buah buku yang pertama kalinya mencantumkan istilah psikologi sosial dalam judulnya, keduanya terbir bersama pada tahun 1908, buku pertama berjudul introduction to social Psychology, ditulis oleh William McDougall, seorang psikolog, Dougall menekankan pentingnya factor-faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dan masyarakat, menurutnya, faktor-faktor personallah ia menjabarkannya dalam puluhan insting yang menentukan perilaku manusia, mengapa manusia berperang? Karena ia memiliki insting berkelahi. Mengapa manusia sanggup membangun bangunan megah?karena ia memiliki insting membangun. Buku yang lainnya adalah Social Psychology, terbit di New York, ditulis oleh Edward Ross, seorang sosiolog. Ross mengatakan utamanya factor situasional dan sosial dalam membentuk perilaku individu.

Di antara dua pendapat tersebut tampak kebenaran interaksi antar keduanya dengan menggunakan istilah Edward E. Sampson(1976)-antara perspektif yang berpusat pada persona (person centered perspective) dengan perspektif yang berpusat pada situasi (situation centered perspective). Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan factor-faktor internal apakah, baik berupa sikap, insting, motif, kepribadian, sistim kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar ada dua factor, yaitu factor biologis dan factor sosiopsikologis

 

Faktor Biologis

 

Manusai adalah mahluk biologis yang tidak berbeda dengan hewan yang lain. Factor biologis  terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan factor-faktor sosiopsikologis. Bahwa warisan biologis manusia menentukan perilakunya, dapat diawali sampai struktur DNA yang menyimpan seluruh memori warisan biologis yang diterima dari kedua orangtuanya. Besarnya pengaruh warisan biologis sampai memunculkan aliran baru, yang memandang seluruh kegiatan manusia, termasuk agama, kebudayaan, moral, Aliran ini disebut dengan aliran sosiobiologis.

Menurut Wilson, perilaku sosial di bombing oleh aturan-aturan yang sudah di program secara genetis dalam jiwa manusia. Yang disebut sebagai “epigenetic rules”, mengatur perilaku manusia sejak kecenderungan menghindari incest, kemampuan memahami ekspresi wajah sampai pada persaingan politik. Pada era akhir ini orang berusaha mengendalikan perilaku manusia melalui manipulasi genetis, control terhadap sistim saraf dan sistim hormonal.  Yang pertama dilakukan “quality control” terhadap gen-gen bakal manusia. Dapat menyingkirkan  gen-gen  yang refresif dan memelihara gen-gen yang meninggikan kualitas manusia, misalnya : menyingkirkan sifat agresif dan memperkuat sifat-sifat penyantun, dengan bedah otak dan sebagainya. Sehingga dapat mengubah seluruh massa manusia menjadi sangat mudah dipengaruhi.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/