Dies Natalis UNLA ke-33

Dies Natalis UNLA ke-33

Dies Natalis UNLA ke-33

Dies Natalis UNLA ke-33
Dies Natalis UNLA ke-33

Civitas akademika Universitas Langlangbuana menggelar sidang senat terbuka

dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-33 di Wisma Buana, Kampus UNLA Jalan Karapitan kemarin (21/10).

Turut hadir dalam gelaran acara tersebut Inspektur Jenderal Polisi Dr H Rycko Amelza Dahniel, SIK MSI selaku ketua STIK-PTIK. Kemudian, ketua Pembina, pengurus dan pengawas yayasan pendidikan Tri Bakti Langlangbuana beserta jajarannya. Tidak ketinggalan, dewan penyantun UNLA, ketua APTISI Jabar, ketua ABPTSI, dan letua PMI Jabar. Tampak juga mantan Rektor UNLA periode 2003-2011, Ali Hanifa berbaur dengan tamu undangan lainnya dipodium kehormatan.

Rektor UNLA DR H Nana Rukmana Asmita MH mengatakan, Dies Natalis ke-33 ini

bukan sekadar perayaan semata. Tapi sebagai titik tolak untuk pengembangan UNLA ke depan dalam mencapai cita-cita UNLA sebagai research university.

Menurut dia, UNLA sedang merumuskan target pencapaian kedalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) yang dijabarkan dalam rencana strategi (Renstra) 4 tahun sekali. Targetnya, Restra I (2015-2019) sebagai teaching university, Restra II (2019- 2023) sebagai teaching university, Restra III (2023-2027) sebagai pre-research university dan Restra IV (2027-2035) sebagai research university.

”Hal tersebut sejalan dengan visi UNLA yang diimplementasikan melalui restorasi

instrumen untuk menghasilkan sumber daya manusia yang profesional dan humanis,” tegas Nana.

Dalam orasi ilmiah yang bertemakan Membangun Karakter Bangsa Melalui Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Fungsi Kepolisian Proaktif Dari Perspektif Ilmu Kepolisian, Irjen Pol DR. Rycko Amelza Dahniel memaparkan, pendidikan harus dimaknai tidak hanya sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan. Tapi, juga sebagai proses pembelajaran sepanjang hayat untuk membangun karakter yang baik. Termasuk mengembangkan potensi dan talenta individual, memperkuat daya intelektual dan pikiran, dan menanamkan jiwa mandiri serta spirit berdikari.

”Itu merupakan salah satu wujud membangun karakter bangsa. Tentunya dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila yang pada hakekatnya untuk meningkatkan kualitas hidup; Lalu mewujudkan penghargaan terhadap kemanusiaan dan menjaga peradaban umat manusia,” kata Rycko.

Sedangkan fungsi kepolisian proaktif dalam menanggulangi masalah sosial melalui pendekatan strategi deteksi dini atau pre-emtif, strategi preventif dan strategi represif dan investigatif agar semua pihak dari semua tataran masyarakat suprastruktur, infrastruktur dan substruktur mengambil bagian tanggung jawab memperbaiki dan memulihkan rusaknya hubungan sosial.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/sejarah-berdirinya-negara-israel/