Dakwah Islam Masa Depan

Dakwah Islam Masa Depan

Dakwah Islam Masa Depan

Dakwah Islam Masa Depan
Dakwah Islam Masa Depan

Makna Islam

Islam adalah agama tauhid yang membawa kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan hidup manusia di dunia dan akhirat. Islam dianut, tumbuh dan menjadi besar bukan dengan paksaan dan kekerasan politik, melainkan dengan jalan dakwah yang damai, bijaksana, dan santun. Namun, belakangan ini, citra Islam sebagai agama yang santun telah tercoreng ulah segelintir kelompok yang tak sabar, frustasi, dan memilih jalan kekerasan.

Globalisasi dan kemajuan dunia modern, telah mempertemukan banyak manusia dengan segala kepentingan, ideologi, etnis dan politik. Hal ini merupakan wilayah dan tantangan dakwah Islam yang tak dapat dihindari. Tentu saja tantangan ini, harus direspon dengan dakwah yang bijaksana, simpati, santun dan teladan yang baik. Jika Islam disebarkan dengan caci maki, permusuhan, dan paksaan, maka Islam akan kehilangan rahmatnya dan dijauhi penganutnya.

Era Global

Era global yang ditandai dengan ledakan informasi telah menjadikan dunia ini sebagai “kampung besar”. Dengan teknologi informasi yang serba canggih, tidak ada lagi sekat pemisah antara satu individu dan individu lainnya, di negara mana pun ia berada. Komunikasi yang terjalin tidak hanya dalam bentuk audio tetapi juga audio-visual. Melalui sistem informasi jaringan, kita dapat mengakses berbagai informasi kapan dan di mana pun. Peristiwa demi peristiwa bisa kita simak secara live. Semua sendi kehidupan manusia, bisa kita ketahui, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Koran-koran, majalah, buku-buku, radio, televisi, telepon, internet, dan jenis alat informasi lainnya, bisa kita gunakan dengan mudah untuk berbagai keperluan.

Tantangan Dakwah

Tantangan Dakwah Kemudahan-kemudahan itu tidak hanya berdampak positif dalam membantu mempermudah aktivitas, tetapi juga berdampak negatif. Beragam kejahatan kriminal hampir terjadi di mana-mana. Globalisasi memberi ruang baru tindak kejahatan, seperti pencurian, penodongan, perjudian, pelacuran, perzinaan, pemerkosaan, minum-minuman keras, hingga penggunaan obat-obatan terlarang. Cafe-cafe dan diskotik-diskotik yang menyajikan tarian-tarian erotis para penari malam adalah bagian dari kemunkaran-kemunkaran yang mucul di era konsumerisme dan hedonisme ini.
Ketika sebagian orang kena “virus” konsumerisme dan hedonisme, giliran sikap hidup berikutnya adalah permifisme. Orang cenderung bersikap serba boleh selama menurut pandangannya tidak merugikan pihak lain. Perilaku dan tindakan manusia tidak lagi mengacu kepada norma baik dan buruk, layak atau tidak, sopan atau norak, menurut norma moral dan etika Islam, tetapi yang menjadi ukuran adalah happy atau tidak.

Dalam konteks seperti itulah lahir beragam perilaku dan tindakan yang oleh sebagian kalangan dipandang asusila dan amoral karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Merebaknya media-media yang berbau pornografis dan tontotan-tontonan pornoaksi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sikap hidup yang permisif. Orang tidak lagi malu atau tabu untuk menjadi photo model sebuah media massa dengan memperlihatkan kemolekan tubuh atau aksi panggung yang mempertontokan goyangan erotis.
Fenomena inilah yang membuat sebagian kaum muslim gerah dan terusik nuraninya untuk segera mengubahnya ke arah yang baik. Ia merasa lemah imannya dan berdosa apabila tidak bergerak atau membiarkan kemunkaran tersebut terus berlangsung. Kepedulian mereka akan moral anak bangsa masa depan memang patut mendapat acungan jempol. Maka segala sarana yang berjurus pada kerusakan moral itu harus segera diberantas. Inilah yang menjadi tantangan dakwah.
Sebagian kaum muslim ada yang cepat habis kesabarannya dan mereka ingin segera “memusnahkan” kemunkaran. Pentungan dan lemparan batu menjadi saran yang paling mudah dan paling cepat untuk membasni segala biang kerusakan moral. Tak hanya gedung dan fasilitas perkantoran yang rusak, aparat kepolisian dan para demontsran juga harus luka berdarah ketika bentrok di antara meraka tak terhindarkan. Apakah memberantas kemunkaran dalam rangka dakwah dengan cara kekerasan merupakan cara terbaik dan efektif? Tentu saja tidak!

Penjelasan Dakwah Persuasif

Dakwah Persuasif Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan dalam nahi munkar. Pertama, memberi penerangan kepada orang yang hendak diubah perbuatannya, sebab adakalanya seseorang melakukan suatu kemunkaran itu dengan sebab tidak tahu atau kebodohannya, sehingga apabila setelah diberi tahu, mungkin sekali ia akan meninggalkannya. Kedua, melarang orang yang berbuat kemunkaran itu dengan memberi nasehat yang baik serta menakut-nakuti akan siksa Allah Swt. Ketiga, melarang dengan tegas, tetapi tetap harus menghindari kata-kata yang kasar (tidak sopan). Ini perlu dilakukan apabila dengan kelemahlembutan tidak membekas. Keempat, melarang kemunkaran dengan menggunakan kekuasaan. Cara ini dilakukan sebagai usaha terakhir. Misalnya dengan menggunakan tangan seperti membuang atau menuangkan arak, merusak alat yang digunakan untuk melakukannya yang dimiliki oleh orang yang berbuat itu atau menyingkirkan dirinya sehingga tidak dapat melakukan kemunkaran itu lagi.

Baca Juga: