Adat Ngawah Kerinangan ( mencari kekasih/pasangan )

Adat Ngawah Kerinangan ( mencari kekasih/pasangan )

Pada masa sebelum pertengahan abad 19, mencari kerinangan bagi Muanai (Bujang) maupun Mouli ( gadis ) sangat sulit sekali,dimana Kayuagung yang wilayahnya sebagian besar rawa-rawa dan dikelilingi oleh anak sungai dari aliran Sungai Komering.Untuk pergi dari tempat yang satu dengan yang lain masih menggunakan sampan /biduk atau perahu bahkan ada yang menggunakan rakit. Alat penerangan masih tradisional seperti menyulut suluh ( membakar daun kelapa kering),membuat obor lebih keren dengan memakai lampu strongkeng (lampu petrokmak)

Sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan bagi bujang dan gadis Kayuagung yang sudah berumur 16-17 tahun keatas untuk mencari kekasih (pasangan).Tradisi adat Kayuagung,para bujang yang mencari gadis ,mencari kerinangan dahulu melalui media kertas (menulis surat) atau pantun itupun terjadi ketika berkenalan satu sama lainnya dalam suatu pesta atau keramaian adat,seperti bertemu dalam adat perkawinan seseorang atau keluarga,terjadilah pertemuan antara Bujang dan gadis,bagi bujang maupun gadis yang ada hati (rasa cinta) kepada lain jenisnya,mereka saling menulis surat atau berpantun,apabila surat dibalas atau pantun dibalas maka menunjukan cinta sang bujang atau sebaliknya itu diterima.Sebaliknya apabila surat ataupun pantun tidak dibalas maka gadis ataupun bujang tersebut tidak cinta atau tidak mencintai terhadap orang yang membuat surat atau yang berpantun.

B.Adat Muku Kerinangan ( mendatangi rumah kekasih)

Muku kerinangan merupakan tahap lanjutan dari ngawah kerinangan,setelah surat atau pantun terbalas maka sudah tradisi bagi bujang untuk mendatangi gadis kerumahnya,menurut tradisi adat Kayuagung,muku kerinangan dimalam Rabu (Rabu malam) dan malam Minggu selepas Sholat Isya’. Biasanya Bujang membawa Kusekan (korek api dari kayu) sambil disuarakan,itupun harus tau dulu dimana letak kamar sang gadis pujaan hati,kalau pintu dibuka maka barulah bisa untuk bercengkrama atau ngobrol (berbicara dari hati kehati).

Sebelum bercengkrama sang bujang biasanya menghidupkan korek api sesuai permintaan sang gadis “ini dilakukan agar gadis tersebut dapat melihat jelas dengan siapa Dia berbicara”, begitu juga sebaliknya.Apabila gadis tersebut menerima maka pintu rumah tempat sang gadis akan terbuka lama ,namun apabila gadis tersebut kurang berkenan maka pintu tersebut segera ditutup dengan berbagai alasan yang masuk akal atau dengan bahasa halus seperti “ Mahap kak,ayuk mak omet debenue ( maaf Kak,ayuk tidak berada dirumah ), atau” Mahap jugelah Kak, onyak ge tuwoi,mawos wat gawi ge telobak nyak pagi (maaf sajalah Kak,Saya mau tidur,besok ada kerjaan dari pagi mau kesawah)”,dan lain sebagainya.

Kebanyakan rumah masyarakat Kayuagung tinggi-tinggi dan terbuat dari tiang kayu dan papan kayu ,”posisi muku kerinangan,Bujang dibawah dekat pintu sementara gadis di atas dekat pintu yang di buka”setelah beberapa kali muku kerinangan ,barulah bujang dapat menaiki rumah orang tua gadis tersebut,sebelum masuk kerumah sudah tradisi harus mengucapkan salam (Assalamualaikum),setelah salam di balas (Waalaikum salam) oleh pemilik rumah.Maka orang tua sang gadis membuka pintu dan bertanya kepada bujang yang datang sembari bertanya. Contoh :

sumber :

Pos-pos Terbaru